Archive for April 2014

Ilmu Budaya Dasar [Kebudayaan dan masalah makna hidup]

Kebudayaan dan masalah makna hidup

1. Pendahuluan
Kebudayaan bisa dibilang merupakan kebiasaan manusia untuk memenuhi kehidupan. Antara lain meliputi kebudayaan materiil, non materiil, biologis, dan yang diperoleh sendiri oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Kebudayaan selalu berdampingan dengan kehidupan. Tentu saja banyak sekali makna kehidupan yang kita dapat. Salah satunya adalah ketika kita mendapat masalah. Masalah juga tentu dapat membuat hidup memiliki warna, tidak membuat hidup menjadi monoton ataupun hambar.

Apa sebenarnya pengertian kebudayaan untuk yang lebih rinci? Dan apa pengertian dari makna hidup? Berikut saya akan menjelaskan apa pengertian dari keduanya karena memang tujuan tulisan ini saya buat adalah untuk memaparkan dan menjelaskan secara terperinci kepada masyarakat.

Sehingga apabila masyarakat sudah memahami maksud dari kebudayaan dan makna hidup itu sendiri, mereka dapat mempraktekannya dan dapat lebih mengerti tentang kebudayaan yang mereka punya, selain itu dengan mengetahui makna dari kehidupan, masyarakat dapat lebih dapat bersyukur atas apa yang mereka punya, termasuk kebudayaan.

2. Pembahasan
Setiap manusia mempunyai harapan. Manusia yang tanpa harapan, berarti manusia itu mati dalam hidup. Orang yang akan meninggal sekalipun mempunyai harapan, biasanya berupa pesan-pesan kepada ahli warisnya.
Harapan tersebut tergantung pada pengetahuan, pengalaman, lingkungan hidup, dan kemampuan masing-masing, Misalnya, Budi yang hanya mampu membeli sepeda, biasanya tidak mempunyai harapan untuk membeli mobil. Seorang yang mempunyai harapan yang berlebihan tentu menjadi buah tertawaan orang banyak, atau orang itu seperti peribahasa “Si pungguk merindukan bulan” Berhasil atau tidaknya suatu harapan tergantung pada usaha orang yang mempunyai harapan, misalnya Rafiq mengharapkan nilai A dalam ujian yang akan datang, tetapi tidak ada usaha, tidak pernah hadir kuliah. Ia menghadapi ujian dengan santai. Bagaimana Rafiq memperoleh nilai A. luluspun mungkin tidak. Harapan harus berdasarkan kepercayaan, baik kepercayaan pada diri sendiri, maupun kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Agar harapan terwujud, maka perlu usaha dengan sungguh-sungguh. Manusia wajib selalu berdoa. Karena usaha dan doa merupakan sarana terkabulnya harapan. Harapan berasal dan kata harap yang berarti keinginan supaya sesuatu terjadi; sehingga harapan berarti sesuatu yang diinginkan dapat terjadi. Dengan demikian harapan menyangkut masa depan.Jadi untuk mewujudkan harapan itu harus disertai dengan usaha yang sesuai dengan apa yang diharapkan Bila dibandingkan dengan cita-cita , maka harapan mengandung pengertian tidak terlalu muluk: sedangkan cita-cita pada umumnya perlu setinggi bintang. Antar harapan dan cita-cita terdapat persamaam yaitu :
• keduanya menyangkut masa depan karena belum terwujud
• pada umumnya dengan cita-cita maupun harapan orang menginginkan hal yang lebih baik atau meningkat.
Masalah sudah menjadi bagian dari hidup, kita tidak akan bisa menjauh atau kabur darinya, semakin kita kabur artinya kita menunda untuk menyelesaikannya. Masalah menjadi hal yang bisa membuat seseorang itu kuat atau sebaliknya lemah dan terjatuh. Semua itu tergantung bagaimana kita menyikapinya.

Setiap masalah yang datang ke dalam kehidupan kita membawa kekuatan sendiri yang akan memperkuat diri kita dari waktu ke waktu.

Teman kerja, suami, istri, keluarga atau orang yang tidak kenal memberi kita masalah? Berterima kasihlah kepada mereka karena mereka telah menyuntikkan kekuatan ke dalam diri kita melalui masalah itu. Yang kita butuhkan saat menerima masalah itu adalah keyakinan bahwa kita bisa menghadapinya dan kita mampu mengambil hikmanya. Semakin sering mereka memberikan kita masalah, sesungguhnya mereka telah melemahkan diri mereka sendiri.

Hidup adalah proses bertumbuh kita dari setiap masalah yang menghampiri.

Jangan membuat hidup terasa sulit hanya karena kita tidak dapat menyambut masalah dalam kehidupan dengan optimisme. Di saat masalah demi masalah menghampiri, di situ saatnya kita lebih menyayangi diri kita dengan cara mengatakan hal-hal yang membuat diri kita lebih yakin akan kemampuan kita untuk menyelesaikan dan menjadikannya kekuatan.

Jadi masalah akan benar-benar menjadi masalah saat kita menghindarinya dan tidak berusaha menyelesaikannya karena kita akan membiarkannya tumbuh dan berkembang mengundang masalah-masalah lain ke dalam kehidupan kita. Masalah bisa menghabiskan seluruh hidup kita dengan cara begini.

Hidup tidak akan memberikan kita apa-apa jika kita tidak pernah melakukan apa-apa.

Sebenarnya hidup itu sangat sederhana, tak pernah se-complicated yang kita gambarkan saat dia berdampingan dengan masalah dan kita bisa menyikapinya dengan bijaksana. Saya menitikkan air mata saat menulis artikel ini, saya sedang merenungi kehidupan saya yang sebenarnya sudah saya skenariokan dengan sangat indah akan tetapi saya sadar bahwasannya dalam sandiwara kehidupan ini isinya bukanlah orang-orang yang bisa saya kendalikan. Ada beberapa orang yang mengerti atau pun mencoba mengerti saya, ada yang mencoba memiliki semua nya sehingga tak menyisakan untuk saya atau yang lainnya.

Kita harus mengerti bahwasannya memang ada beberapa orang yang datang ke dalam hidup kita dan saya percaya itu dikirim oleh Tuhan untuk memberikan kita masalah, mengacaukan segalanya akan tetapi maksud Tuhan mengirimkannya bukanlah untuk membuat kita menderita melainkan menjadikan kita manusia yang lebih kuat, lebih baik dan tentu saja agar kita belajar menjadi lebih bijaksana.

3. Penutup
Kebudayaan selalu berhubungan dengan kehidupan. Kebudayaan adalah tingkah laku atau kebiasaan manusia yang memiliki banyak makna dalam kehidupan yang perlu kita sadari. Makna kehidupan sendiri adalah proses penemuan hakekat yang sangat berarti bagi setiap individu. Apabila kebutuhan dasarnya terpenuhi, individu akan merasa senang.
Manusia termotivasi untuk meraih tujuan dalam hidupnya agar dapat menemukan jati diri yang sesungguhnya. Hal itu tentu membuatnya dapat melanjutkan kehidupannya dan tentunya dengan menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Manusia yang sudah meraih tujuan hidupnya berarti dia sudah memiliki dan mengerti makna dari kehidupan.

4. Referensi




Nama : Choerul Aldi Wibowo
NPM : 11113899
Kelas : 1ka08

Ilmu Budaya Dasar [Membangun Kesadaran Budaya Lokal Dalam Perguruan Tinggi]

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang Masalah
Dunia ini memasuki era globalisasi. Dalam perkembangan era globalisasi seperti ini yang diboncengin neoliberalisme dan modernisasi. Dapat kita ketahui bahwasanya kebuduayaan lokal yang telah kita tanam sejak terbentuknya secara alami dan diperoleh proses belajar dari waktu ke waktu sangat di kahwatirkan. Wujudnya zaman modernisasi saat ini dapat kita lihat dalam bentuk IPTEK (ilmu pengetahuan dan teknologi). Kondisi tersebut secara tidak langsung telah melahirkan budaya baru dan mempengaruhi tatanan budaya masyarakat Indonesia. Era globalisasi seperti sekarang ini akan berpengaruh terhadap segala bidang kehidupan, termasuk di dalamnya adalah bidang pendidikan dan kebudayaan.
Salah satu bidang kehidupan yang harus kita perhatinkan yaitu bidang pendidikan. Salah satu keutamaan dalam bidang pendidikan dan kebudayaan adalah masalah identitas bangsa. Oleh karena itu, jati diri bangsa adalah sesuatu yang harus mati – matian diperjuangkan. Jangan sampai jati diri ini luntur dengan deresnya era globalisasi seperti ini. Budaya asing saat ini telah mewabah dan mulai mengikis eksistensi budaya lokal yang sangat bermakna. Dalam hal ini harus kita sadari, yang harus berperan untuk meningkatkan kebudayaan lokal yang seharusnya kita jaga agar tidak mudah memudar oleh zaman modern ini adalah masyarakat lokal.
Beberapa bentuk untuk menjaga budaya lokal saat ini adalah  kita peratkan pendidikan dan mengenali kebudayaan lokal yang kita miliki kepada masyarakat, anak sekolah dan mahasiswa. Dalam peran penting untuk mengenali kebudayaan lokal seperti ini tertuju dengan mahasiswa yang sudah mengenali kebudayaan lokal yang tercipa alami oleh wilayah yang menciptakan kebudayaan lokal tersebut. Untuk itu dalam proses pembelajaran di kelas harus menggunakan pendekatan budaya yaitu dengan cara mengaitkan materi kuliah dengan konsep yang berasal dari budaya lokal dimana mahasiswa berada. Melalui pengembangan konsep budaya lokal dalam proses pembelajaran, maka perkuliahan akan lebih mudah dipahami dan diterima mahasiswa. Dengan kata lain, salah satu cara meningkatkan partisipasi mahasiswa dalam perkulihan adalah dengan menggunakan pendekatan pembelajaran berbasis budaya.
Tulisan sederhana ini akan mencoba menjelaskan tentang bagaiman cara membangun kesadaran budaya lokal dalam perguruan tinggi agar mampu meningkatkan partisipasi mahasiswa dalam perkuliahan. Dengan hal ini, dapat kita sadari bahwasanya kebudayaan lokal dalam perguruan tinggi dapat meningkat dan dapat dipahami oleh mahasiswa.
1.2  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dipaparkan di atas maka masalah yang muncul kemudian ialah bagaiman mana cara membangun kesadaran budaya lokal dalam perguruan tinggi? Dan berperan sebagai apakah mahasiswa saat ini agar memertahankan kebudayaan lokal saat ini terhadap era globalisasi sseperti in?
1.3  Tujuan Penelitian
Tujuan penilitian ini adalah :
1.      Memahami bagaimana cara memertahankan budaya lokal
2.      Membangun kesadaran budaya lokal dalam perguruan tinggi
3.      Menumbuhkan nilai – nilai dalam budaya lokal dalam perguruan tinggi.



BAB II
ISI PENELITIAN
2.1 Membangun Kesadaran Budaya Lokal Dalam Perguruan Tinggi
A. Pengertian Budaya
Menurut  Koentjoroningrat, Budaya  adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan segala hasil karya manusia dalam rangka  kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan cara belajar (Gering Supriyadi : 2003). Pada  kesempatan  lain  Koentjoroningrat  menyebut  konsep  kebudayaan sebagai  sistem  ide  yang  dimiliki  bersama  oleh  masyarakat  pendukungnya meliputi : kepercayaan, pengetahuan, keseluruhan nilai dan norma hubungan  antar  individu  dalam  suatu  komunitas  yang  dihayati, dilakukan, ditaati,  dan  dilestarikan,  keseluruhan  cara  mengungkapkan  perasaan dengan bahasa lisan, tulisan, nyanyian, permainan musik, tarian, lukisan atau penggunaan lambing (Soetarno : 2004).
Selanjutnya, dikatakan bahwa kebudayaan teridiri dari pola-pola yang nyata maupun tersembunyi dan untuk yang diperoleh dalam bentuk simbol – simbol yang menjadi hasil karya dari suatu komunitas budaya. Inti pokok kebudayaan itu sendiri merupakan  gagasan-gagasan tradisional yang diperoleh dan dipilih secara historis, khususnya nilai-nilai yang relevan. Sistem kebudayaan dapat dianggap sebagai hasil tindakan dan sebagai unsur yang mempengaruhi tindakan selanjutnya .Ditinjau  dari  bentuknya,  terdapat  dua  bentuk  budaya,  yaitu  budaya subjektif dan budaya objektif. Budaya subjektif adalah nilai-nlai batin yang terdapat  dalam  kebenaran,  kebajikan,  dan  keindahan.  Sedangkan  budaya ojektif adalah tata lahir yang berbentuk materialisasi dan institusionalisasi.
Berdasarkan  fungsionalisme,  budaya  yang  dapat  dimanfaatkan  dalam pembelajaran berbasis budaya meliputi :
a.       Kebudayaan yang dapat menjaga kelangsung  hidup
b.      b. Kebudayaan yang  bernilai ekonomi, bernilai kontrol sosial, bernilai pendidikan, yang bersumber dari kebudayaan Nusantara (2004).


B. Pembelajaran Berbasis Budaya
Pembelajaran berbasis budaya merupakan penciptaan lingkungan belajar dan membuat pengalaman belajar yang mengintegrasikan budaya sebagai bagian pembelajaran. Pendekatan ini didasarkan pada pengakuan terhadap budaya sebagai bagian yang fundamental dalam pendidikan, ekspresi, dan komunikasi gagasan, serta perkembangan pengetahuan. Dalam pembelajaran berbasis budaya diintegrasikan sebagai alat bagi proses belajar untuk memotivasi mahasiswa dalam mempersepsikan keterkaitan antara berbagai bidang ilmu.
Pembelajaran   berbasis budaya sebagai salah satu pendekatan pembelajaran  alternatif,  yaitu  mengaitkan  materi  kuliah  dengan  konsep  yang berasal dari  budaya lokal di mana mahasiswa  berada. Melalui pengembangan konsep budaya lokal  dalam proses pembelajaran, maka perkuliahan akan lebih mudah  dipahami  dan  diterima  mahasiswa. Dengan kata lain, salah satu cara meningkatkan partisipasi mahasiswa dalam perkuliahan adalah dengan menggunakan pendekatan pembelajaran berbasis budaya.
Brooks & Brooks percaya bahwa pendekatan pembelajaran berbasis budaya dapat  memberikan kesempatan kepada perserta didik untuk menciptakan makna dan mencapai pemahaman terpadu atas informasi keilmuan yang diperolehnya, serta penerapan informasi keilmuan tersebut dalam konteks permasalahan komunitas budayanya. (Sutarno : 2004). Dalam pembelajaran berbasis budaya, mahasiswa dapat termotivasi dalam berpatisipasi dalam kebudayan lokal dimana mahasiswa berada.
Proses belajar dalam membangun kesadaran budaya lokal ini berfokus pada strategi agar mahasiswa dapat melihat hubungan antara konsep/prinsip dalam bidang ilmunya, dengan budaya, dan dapat berpatisipasi aktif, dan bangga untuk belajar budaya lokal. Mahasiswa dapat mengembangkan daya motivasi untuk meningkatkan kebudayaan lokal dimana mahasiswa berada. Untuk itu mahasiswa membangun kesadaran budaya lokal dan dapat mengerti pentingnya kebudayaan lokal dalam masyarakat.
2.2 Penutup
Membangun budaya lokal dalam perguruan tinggi dapat di salurkan oleh masyarakat dengan cara pendidikan yang formal. Dengan cara pembelajaran berbasis budaya, perguruan tinggi telah mengaitkan kebudayaan lokal dalam proses pembelajaran terserbut. Melalui itu mahasiswa dapat mudah dipahami dan diterima mahasiswa. Dengan kata lain, salah satu cara meningkatkan pertisipasi mahasiswa dalam perkuliahan adalah dengan menggunakan pendekatan pembelajaran berbasis budaya. Demikian pembahasan sang penulis yaitu “Membangun Kesadaran Budaya Lokal Dalam Perguruan Tinggi” secara singkat.



Daftar Pustaka
M. Zainudin dan Susy Puspitasari, 2005, Strategi Peningkatan Kualitas Pendidikan Tinggi, Edisi Revisi, PAU-PPAI Universitas Terbuka, Jakarta.
Sarbiran. Tanpa tahun. Pedoman Penelitian Tindakan Untuk Tenaga Kependidikan. Depdikbud. Jakarta.
Soetarno,  2004,  Ragam  Budaya  Indonesia,  Direktorat  Pembinaan  Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Perguruan Tinggi - Dirjen Dikti - Depdiknas, Jakarta.

Gering Supriyadi, 2003, Budaya Kerja Pegawai Negeri Sipil, Lembaga Administrasi Negara, Jakarta.


Nama : Choerul Aldi Wibowo
NPM : 11113899
Kelas : 1ka08

Ilmu Budaya Dasar [Pesan Agama Dalam Membangun Budaya Lokal]

 BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Agama mempunyai hubungan yang sangat erat dalam kebudayaan. Dalam meningkatkan persebaran agama ke wilayah yang di inginkan mempunyai strategi dan metode yang dapat diterima baik oleh masyarakat tersebut. Salah satu cara menyebarkan agama ke wilayah yang di inginkan itu melalui kebudayaan, perdagangan, dan ikatan pernikahan dalam masyarakat tersebut.
Pembahasan ini mengukapkan tentang potensi yang harus dibangun dan dikembangkan dalam agama untuk membangun kebudayaan lokal. Strategi yang harus dilakukan untuk membangun agama dalam budaya lokal dapat dibekali dengan pengetahuan, dan sikap yang dapat di terima baik oleh masyarakat. Begitu pula dengan metode yang sesuai dengan tuntutan dan perkembangan masyarakat yang saat ini. Dimana kebudayaan tersebut begitu sangat berkembang pesat dengan oleh zaman modern yang sangat canggih dalam membangun kebudayaan tersebut.
Dalam pembahasan ini sang penulis akan mengupas sesuai topik yang di bahas yaitu “Pesan Agama Dalam Membangun Budaya Lokal”. Dimana topik ini untuk dapat membawa sang pembaca untuk memahami pesan – pesan agama dalam kebudayaan yang begitu sangat berkembang pesat oleh zaman modern tersebut.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dipaparkan di atas maka masalah yang yang muncul kemudian ialah apa pesan - pesan agama dalam membangun budaya lokal saat ini? Dan bagaiman cara nya untuk memberi pesan – pesan agama tersebut? Dan mengapa agama dapat membaur dalam  kebudayaan pada zaman modern ini?

1.3Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah :
1.      Diharapkan dapat  memberikan jawaba atas rumusan masalah yang telah dipaparkan di atas
2.      Sebagai motivasi atas pesan–pesan agama untuk kebudayaan.
3.      Memberi kesadaran, bahwa budaya dan agama selalu ada ikatannya.
4.      Dapat mengetahui pesan–pesan yang telah di berikan agama oleh kebudaya lokal saat ini.



BAB II
ISI PENELITIAN

2.1 Pesan Agama Dalam Membangun Budaya Lokal        
          Budaya dapat dijadikan “mesin raksasa” untuk menafsirkan pesan suci agama terutama islam dalam bingkai kultural, kata Rektor Universitas Islam Negri(UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof Dr HM Amin Abdullah. “Agama harus ditekankan tidak bisa berjalan sendiri untuk memupuk kebersamaan dalam membangun identitas kultural,” katanya dalam pidato penganugerahan Doctor Honoris Causa bidang kebudayaan Islam kepada KH Ahmad Mustofa Bisri, di Yogyakarta.
Menurut Amin Abdullah, agama harus masuk dalam wilayah kategori akhlak, moral, etis, spritual, dan pandangan dunia. Namun demikian, budaya juga menjadi nihil tanpa orientasi transendental yang bersumber dari kejernihan agama."Dalam konteks itu Islam budaya mengambil peran yang signifikan menyulam peradaban manusia sehingga tampak indah dalam suatu jahitan yang harmonis," katanya.
Islam itu sesungguhnya lebih dari satu sistem agama saja; Islam adalah satu kebudayaan yang lengkap”. Demikian diungkapkan oleh H.A. Gibb dalam bukunya yang terkenal Wither Islam.
Seperti itulah pandangan tentang hubungan budaya dengan agama. Seperti yang kita ketahui agama adalah suatu kata yang tidak dapat dimaknai secara tunggal. Memahami agama tidak cukup untuk memandang dengan satu kaca mata saja. Tapi agama harus di pandang oleh beberapa  sudut pandang agar dapat memberikan gambaran seutuhnya. Dengan hal itu agama dapat kita memahami, apa itu agama dengan menurut pandangan yang berbeda? Seperti contoh dalam pandangan ilmuwan Sumardi, 1985:75 “Agama adalah keprihatinan maha luhur dari manusia yang terungkap selaku jawabannya terhadap panggilan dari yang Maha Kuasa dan Maha Kekal. Keprihatinan yang Maha Kuasa dan Maha Kekal itu diungkapkan dalam hidup manusia,pribadi atau kelompok terhadap Tuhan, terhadap manusia dan terhadap alam semesta raya serta isinya”.
Budaya? Budaya menurut Koentjaraningrat (1987:180) adalah keseluruhan sistem, gagasan, tindakan dan hasil kerja manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang di jadikan milik manusia dengan belajar. Jadi budaya diperoleh melalui belajar. Tindakan – tindakan yang dipelajari antara lain cara makan, minum, berpakaian, berbicara, bertani, bertukang, berrelasi dalam masyarakat adalah budaya. Dapatlah disimpulkan bahwa budaya yang digerakan agama timbul dari proses interaksi manusia dengan kitab yang di yakini sebagai hasil daya kreatif pemeluk suatu agama tapi dikondisikan oleh konteks hidup pelakunya, yaitu faktor geografis, budaya dan beberapa kondisi yang objektif.
Dengan penelitian ini, sudah jelas dengan pengertian Agama dan Budaya menurut penulis dan menurut sudut pandangan ilmuwan – ilmuwan yang cukup singkat dan jelas. Lalu, apa pesan agama untuk kebudayaan saat ini, pada zaman modern ini? Jadi agama islam lah yang menjawab, agama islam yang telah menyumbangkan kepekaan terhadap tata tertib kehidupan melalui syari’ah, ketaatan melakukan Shalat lima waktu, kepekaan terhadap mana yang baik dan mana yang jahat, dan melakukan yang baik dan menjauhi yang jahat (amar makruf nahi munkar) berdampak pada pertumbuhan akhlak yang mulia. Inilah hal – hal yang disumbangkan islam dalam pembentukan budaya bangsa.
Bagaiman cara agama memberi pesan kepada budaya zaman modern seperti ini? Jawabannya yaitu dengan cara melopori mendirikan pendidikan seperti sekolah, pondok pesantren, perguruan tinggi. Melalui pendidikan seperti inilah sejak kecil kita diajarkan bagaiman cara melakukan hal yang baik dan menjahui yang jahat, mengetahui hal yang buruk dan hal yang baik. Seperti contohnya pada saat kita masih berpendidikan Taman Kanak – Kanak atau pada saat menginjak Sekolah Dasar, kita sudah di ajarkan berdoa sebelum makan dan sesudah makan, sebelum minum dan sesudah minum, menghormati orang yang lebih tua dari kita, dan dapat mengerjakan sesuatu yang dapat berguna untuk orang lain, karna Manusia yang beruntung adalah manusia yang bermanfaat untuk orang lain.

2.2 Penutup
          Agama dalam budaya lokal adalah akan selalu bersatu dalam menjalankan kebudayaan saat ini. Sehingga agama dan budaya tidak akan hilang ditelan zaman. Dengan penilitian ini dapat kita simpulkan bahwa agama adalah pondasi atau tiang iman yang dapat membawa kita berbagai hari ke hari, bulan ke bulan, tahun ke tahun, zaman ke zaman, hingga saat ini. Demikian yang dapat di sampaikan tentang pembahasan sang penulis yaitu Pesan Agama Dalam Budaya Lokal secara singkat.



 SUMBER REFERENSI


Nama : Choerul Aldi Wibowo
NPM : 11113899
Kelas : 1ka08

Copyright © 2012-2014 Chiba Taiki Blogzs
Powered by Blogger
Designed by Johanes Djogan | Re-Design by Chiba Taiki