Archive for April 2014
Ilmu Budaya Dasar [Kebudayaan dan masalah makna hidup]
Kebudayaan dan masalah makna hidup
1.
Pendahuluan
Kebudayaan bisa
dibilang merupakan kebiasaan manusia untuk memenuhi kehidupan. Antara lain
meliputi kebudayaan materiil, non materiil, biologis, dan yang diperoleh
sendiri oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Kebudayaan selalu berdampingan
dengan kehidupan. Tentu saja banyak sekali makna kehidupan yang kita dapat.
Salah satunya adalah ketika kita mendapat masalah. Masalah juga tentu dapat
membuat hidup memiliki warna, tidak membuat hidup menjadi monoton ataupun
hambar.
Apa
sebenarnya pengertian kebudayaan untuk yang lebih rinci? Dan apa pengertian
dari makna hidup? Berikut saya akan menjelaskan apa
pengertian dari keduanya karena memang tujuan tulisan ini saya buat adalah
untuk memaparkan dan menjelaskan secara terperinci kepada masyarakat.
Sehingga apabila
masyarakat sudah memahami maksud dari kebudayaan dan makna hidup itu sendiri,
mereka dapat mempraktekannya dan dapat lebih mengerti tentang kebudayaan yang
mereka punya, selain itu dengan mengetahui makna dari kehidupan, masyarakat
dapat lebih dapat bersyukur atas apa yang mereka punya, termasuk kebudayaan.
2.
Pembahasan
Setiap manusia
mempunyai harapan. Manusia yang tanpa harapan, berarti manusia itu mati dalam
hidup. Orang yang akan meninggal sekalipun mempunyai harapan, biasanya berupa
pesan-pesan kepada ahli warisnya.
Harapan tersebut
tergantung pada pengetahuan, pengalaman, lingkungan hidup, dan kemampuan
masing-masing, Misalnya, Budi yang hanya mampu membeli sepeda, biasanya tidak
mempunyai harapan untuk membeli mobil. Seorang yang mempunyai harapan yang
berlebihan tentu menjadi buah tertawaan orang banyak, atau orang itu seperti
peribahasa “Si pungguk merindukan bulan” Berhasil atau tidaknya suatu harapan
tergantung pada usaha orang yang mempunyai harapan, misalnya Rafiq mengharapkan
nilai A dalam ujian yang akan datang, tetapi tidak ada usaha, tidak pernah
hadir kuliah. Ia menghadapi ujian dengan santai. Bagaimana Rafiq memperoleh
nilai A. luluspun mungkin tidak. Harapan harus berdasarkan kepercayaan, baik
kepercayaan pada diri sendiri, maupun kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Agar harapan terwujud, maka perlu usaha dengan sungguh-sungguh. Manusia wajib
selalu berdoa. Karena usaha dan doa merupakan sarana terkabulnya harapan.
Harapan berasal dan kata harap yang berarti keinginan supaya sesuatu terjadi;
sehingga harapan berarti sesuatu yang diinginkan dapat terjadi. Dengan demikian
harapan menyangkut masa depan.Jadi untuk mewujudkan harapan itu harus disertai
dengan usaha yang sesuai dengan apa yang diharapkan Bila dibandingkan dengan
cita-cita , maka harapan mengandung pengertian tidak terlalu muluk: sedangkan cita-cita
pada umumnya perlu setinggi bintang. Antar harapan dan cita-cita terdapat
persamaam yaitu :
• keduanya menyangkut masa depan karena
belum terwujud
• pada umumnya dengan cita-cita maupun
harapan orang menginginkan hal yang lebih baik atau meningkat.
Masalah sudah
menjadi bagian dari hidup, kita tidak akan bisa menjauh atau kabur darinya,
semakin kita kabur artinya kita menunda untuk menyelesaikannya. Masalah menjadi
hal yang bisa membuat seseorang itu kuat atau sebaliknya lemah dan terjatuh.
Semua itu tergantung bagaimana kita menyikapinya.
Setiap masalah
yang datang ke dalam kehidupan kita membawa kekuatan sendiri yang akan
memperkuat diri kita dari waktu ke waktu.
Teman kerja,
suami, istri, keluarga atau orang yang tidak kenal memberi kita masalah?
Berterima kasihlah kepada mereka karena mereka telah menyuntikkan kekuatan ke
dalam diri kita melalui masalah itu. Yang kita butuhkan saat menerima masalah
itu adalah keyakinan bahwa kita bisa menghadapinya dan kita mampu mengambil
hikmanya. Semakin sering mereka memberikan kita masalah, sesungguhnya mereka
telah melemahkan diri mereka sendiri.
Hidup adalah
proses bertumbuh kita dari setiap masalah yang menghampiri.
Jangan membuat
hidup terasa sulit hanya karena kita tidak dapat menyambut masalah dalam
kehidupan dengan optimisme. Di saat masalah demi masalah menghampiri, di situ
saatnya kita lebih menyayangi diri kita dengan cara mengatakan hal-hal yang
membuat diri kita lebih yakin akan kemampuan kita untuk menyelesaikan dan
menjadikannya kekuatan.
Jadi masalah
akan benar-benar menjadi masalah saat kita menghindarinya dan tidak berusaha
menyelesaikannya karena kita akan membiarkannya tumbuh dan berkembang
mengundang masalah-masalah lain ke dalam kehidupan kita. Masalah bisa
menghabiskan seluruh hidup kita dengan cara begini.
Hidup tidak akan
memberikan kita apa-apa jika kita tidak pernah melakukan apa-apa.
Sebenarnya hidup
itu sangat sederhana, tak pernah se-complicated yang kita gambarkan saat dia
berdampingan dengan masalah dan kita bisa menyikapinya dengan bijaksana. Saya
menitikkan air mata saat menulis artikel ini, saya sedang merenungi kehidupan
saya yang sebenarnya sudah saya skenariokan dengan sangat indah akan tetapi
saya sadar bahwasannya dalam sandiwara kehidupan ini isinya bukanlah
orang-orang yang bisa saya kendalikan. Ada beberapa orang yang mengerti atau
pun mencoba mengerti saya, ada yang mencoba memiliki semua nya sehingga tak
menyisakan untuk saya atau yang lainnya.
Kita harus
mengerti bahwasannya memang ada beberapa orang yang datang ke dalam hidup kita
dan saya percaya itu dikirim oleh Tuhan untuk memberikan kita masalah,
mengacaukan segalanya akan tetapi maksud Tuhan mengirimkannya bukanlah untuk
membuat kita menderita melainkan menjadikan kita manusia yang lebih kuat, lebih
baik dan tentu saja agar kita belajar menjadi lebih bijaksana.
3.
Penutup
Kebudayaan
selalu berhubungan dengan kehidupan. Kebudayaan adalah tingkah laku atau
kebiasaan manusia yang memiliki banyak makna dalam kehidupan yang perlu kita
sadari. Makna kehidupan sendiri adalah proses penemuan hakekat yang sangat
berarti bagi setiap individu. Apabila kebutuhan dasarnya terpenuhi, individu
akan merasa senang.
Manusia
termotivasi untuk meraih tujuan dalam hidupnya agar dapat menemukan jati diri
yang sesungguhnya. Hal itu tentu membuatnya dapat melanjutkan kehidupannya dan
tentunya dengan menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Manusia yang sudah meraih
tujuan hidupnya berarti dia sudah memiliki dan mengerti makna dari kehidupan.
4.
Referensi
http://anwarabdi.wordpress.com/2013/06/01/manusia-dan-harapan/
(di unduh pada tanggal 30 maret 2013)
http://pendarbintang.blogdetik.com/2013/12/15/makna-masalah-dalam-kehidupan/
(di
unduh pada tanggal 30 maret 2013)
Nama : Choerul Aldi Wibowo
NPM : 11113899
Kelas : 1ka08
Ilmu Budaya Dasar [Membangun Kesadaran Budaya Lokal Dalam Perguruan Tinggi]
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Dunia ini
memasuki era globalisasi. Dalam perkembangan era globalisasi seperti ini yang
diboncengin neoliberalisme dan modernisasi. Dapat kita ketahui bahwasanya
kebuduayaan lokal yang telah kita tanam sejak terbentuknya secara alami dan
diperoleh proses belajar dari waktu ke waktu sangat di kahwatirkan. Wujudnya
zaman modernisasi saat ini dapat kita lihat dalam bentuk IPTEK (ilmu
pengetahuan dan teknologi). Kondisi tersebut secara tidak langsung telah melahirkan
budaya baru dan mempengaruhi tatanan budaya masyarakat Indonesia. Era
globalisasi seperti sekarang ini akan berpengaruh terhadap segala bidang
kehidupan, termasuk di dalamnya adalah bidang pendidikan dan kebudayaan.
Salah satu bidang kehidupan yang harus
kita perhatinkan yaitu bidang pendidikan. Salah satu keutamaan dalam bidang
pendidikan dan kebudayaan adalah masalah identitas bangsa. Oleh karena itu,
jati diri bangsa adalah sesuatu yang harus mati – matian diperjuangkan. Jangan
sampai jati diri ini luntur dengan deresnya era globalisasi seperti ini. Budaya
asing saat ini telah mewabah dan mulai mengikis eksistensi budaya lokal yang
sangat bermakna. Dalam hal ini harus kita sadari, yang harus berperan untuk
meningkatkan kebudayaan lokal yang seharusnya kita jaga agar tidak mudah
memudar oleh zaman modern ini adalah masyarakat lokal.
Beberapa bentuk untuk menjaga budaya
lokal saat ini adalah kita peratkan
pendidikan dan mengenali kebudayaan lokal yang kita miliki kepada masyarakat,
anak sekolah dan mahasiswa. Dalam peran penting untuk mengenali kebudayaan
lokal seperti ini tertuju dengan mahasiswa yang sudah mengenali kebudayaan
lokal yang tercipa alami oleh wilayah yang menciptakan kebudayaan lokal
tersebut. Untuk itu dalam proses pembelajaran di kelas harus menggunakan
pendekatan budaya yaitu dengan cara mengaitkan materi kuliah dengan konsep yang
berasal dari budaya lokal dimana mahasiswa berada. Melalui
pengembangan konsep budaya lokal dalam proses pembelajaran, maka perkuliahan
akan lebih mudah dipahami dan diterima mahasiswa. Dengan kata lain, salah satu
cara meningkatkan partisipasi mahasiswa dalam perkulihan adalah dengan
menggunakan pendekatan pembelajaran berbasis budaya.
Tulisan
sederhana ini akan mencoba menjelaskan tentang bagaiman cara membangun
kesadaran budaya lokal dalam perguruan tinggi agar mampu meningkatkan
partisipasi mahasiswa dalam perkuliahan. Dengan hal ini, dapat kita sadari
bahwasanya kebudayaan lokal dalam perguruan tinggi dapat meningkat dan dapat
dipahami oleh mahasiswa.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang masalah yang telah dipaparkan di atas maka masalah yang muncul
kemudian ialah bagaiman mana cara membangun kesadaran budaya lokal dalam
perguruan tinggi? Dan berperan sebagai apakah mahasiswa saat ini agar
memertahankan kebudayaan lokal saat ini terhadap era globalisasi sseperti in?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan
penilitian ini adalah :
1.
Memahami bagaimana cara memertahankan
budaya lokal
2.
Membangun kesadaran budaya lokal dalam
perguruan tinggi
3.
Menumbuhkan nilai – nilai dalam budaya
lokal dalam perguruan tinggi.
BAB II
ISI PENELITIAN
2.1
Membangun Kesadaran Budaya Lokal Dalam Perguruan Tinggi
A.
Pengertian Budaya
Menurut Koentjoroningrat, Budaya adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan segala hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan cara belajar (Gering Supriyadi : 2003). Pada kesempatan
lain Koentjoroningrat
menyebut
konsep kebudayaan sebagai
sistem ide yang
dimiliki
bersama oleh masyarakat
pendukungnya meliputi : kepercayaan, pengetahuan, keseluruhan nilai dan norma hubungan
antar individu
dalam
suatu
komunitas yang
dihayati, dilakukan, ditaati, dan
dilestarikan, keseluruhan
cara mengungkapkan
perasaan
dengan bahasa lisan, tulisan, nyanyian, permainan musik, tarian, lukisan atau penggunaan
lambing
(Soetarno : 2004).
Selanjutnya, dikatakan bahwa kebudayaan teridiri dari pola-pola yang
nyata maupun tersembunyi dan untuk yang diperoleh dalam bentuk simbol – simbol
yang menjadi hasil karya dari suatu komunitas budaya. Inti pokok kebudayaan itu
sendiri merupakan
gagasan-gagasan tradisional yang diperoleh dan dipilih secara historis, khususnya nilai-nilai yang relevan. Sistem kebudayaan dapat dianggap sebagai hasil tindakan dan sebagai unsur yang mempengaruhi tindakan selanjutnya .Ditinjau
dari
bentuknya, terdapat
dua
bentuk
budaya,
yaitu budaya subjektif dan budaya objektif. Budaya subjektif adalah nilai-nlai batin yang terdapat
dalam kebenaran,
kebajikan,
dan keindahan. Sedangkan
budaya ojektif adalah tata lahir yang berbentuk materialisasi dan institusionalisasi.
Berdasarkan
fungsionalisme,
budaya yang
dapat
dimanfaatkan
dalam pembelajaran
berbasis budaya meliputi :
a. Kebudayaan
yang dapat menjaga kelangsung hidup
b. b. Kebudayaan yang bernilai ekonomi, bernilai kontrol sosial,
bernilai pendidikan, yang bersumber dari kebudayaan Nusantara (2004).
B. Pembelajaran Berbasis Budaya
Pembelajaran
berbasis budaya merupakan penciptaan lingkungan belajar dan membuat pengalaman
belajar yang mengintegrasikan budaya sebagai bagian pembelajaran. Pendekatan
ini didasarkan pada pengakuan terhadap budaya sebagai bagian yang fundamental
dalam pendidikan, ekspresi, dan komunikasi gagasan, serta perkembangan
pengetahuan. Dalam pembelajaran berbasis budaya diintegrasikan sebagai alat
bagi proses belajar untuk memotivasi mahasiswa dalam mempersepsikan keterkaitan
antara berbagai bidang ilmu.
Pembelajaran berbasis budaya sebagai salah satu pendekatan pembelajaran alternatif,
yaitu mengaitkan materi
kuliah dengan konsep
yang berasal dari budaya lokal di
mana mahasiswa berada. Melalui
pengembangan konsep budaya lokal dalam
proses pembelajaran, maka perkuliahan akan lebih mudah dipahami
dan diterima mahasiswa. Dengan kata lain, salah satu cara
meningkatkan partisipasi mahasiswa dalam perkuliahan adalah dengan menggunakan
pendekatan pembelajaran berbasis budaya.
Brooks &
Brooks percaya bahwa pendekatan pembelajaran berbasis budaya dapat memberikan kesempatan kepada perserta didik
untuk menciptakan makna dan mencapai pemahaman terpadu atas informasi keilmuan
yang diperolehnya, serta penerapan informasi keilmuan tersebut dalam konteks
permasalahan komunitas budayanya. (Sutarno : 2004). Dalam pembelajaran berbasis
budaya, mahasiswa dapat termotivasi dalam berpatisipasi dalam kebudayan lokal
dimana mahasiswa berada.
Proses belajar
dalam membangun kesadaran budaya lokal ini berfokus pada strategi agar
mahasiswa dapat melihat hubungan antara konsep/prinsip dalam bidang ilmunya,
dengan budaya, dan dapat berpatisipasi aktif, dan bangga untuk belajar budaya
lokal. Mahasiswa dapat mengembangkan daya motivasi untuk meningkatkan
kebudayaan lokal dimana mahasiswa berada. Untuk itu mahasiswa membangun
kesadaran budaya lokal dan dapat mengerti pentingnya kebudayaan lokal dalam
masyarakat.
2.2
Penutup
Membangun budaya
lokal dalam perguruan tinggi dapat di salurkan oleh masyarakat dengan cara
pendidikan yang formal. Dengan cara pembelajaran berbasis budaya, perguruan
tinggi telah mengaitkan kebudayaan lokal dalam proses pembelajaran terserbut.
Melalui itu mahasiswa dapat mudah dipahami dan diterima mahasiswa. Dengan kata
lain, salah satu cara meningkatkan pertisipasi mahasiswa dalam perkuliahan
adalah dengan menggunakan pendekatan pembelajaran berbasis budaya. Demikian
pembahasan sang penulis yaitu “Membangun Kesadaran Budaya Lokal Dalam Perguruan
Tinggi” secara singkat.
Daftar
Pustaka
M. Zainudin dan Susy Puspitasari,
2005, Strategi Peningkatan Kualitas
Pendidikan Tinggi, Edisi Revisi, PAU-PPAI Universitas Terbuka, Jakarta.
Sarbiran. Tanpa tahun. Pedoman Penelitian Tindakan Untuk Tenaga
Kependidikan. Depdikbud. Jakarta.
Soetarno, 2004, Ragam
Budaya Indonesia, Direktorat
Pembinaan Pendidikan Tenaga
Kependidikan dan Ketenagaan Perguruan Tinggi - Dirjen Dikti - Depdiknas,
Jakarta.
Gering Supriyadi, 2003, Budaya Kerja Pegawai Negeri Sipil,
Lembaga Administrasi Negara, Jakarta.
Nama : Choerul Aldi Wibowo
NPM : 11113899
Kelas : 1ka08
Ilmu Budaya Dasar [Pesan Agama Dalam Membangun Budaya Lokal]
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang Masalah
Agama mempunyai
hubungan yang sangat erat dalam kebudayaan. Dalam meningkatkan persebaran agama
ke wilayah yang di inginkan mempunyai strategi dan metode yang dapat diterima
baik oleh masyarakat tersebut. Salah satu cara menyebarkan agama ke wilayah
yang di inginkan itu melalui kebudayaan, perdagangan, dan ikatan pernikahan
dalam masyarakat tersebut.
Pembahasan ini
mengukapkan tentang potensi yang harus dibangun dan dikembangkan dalam agama
untuk membangun kebudayaan lokal. Strategi yang harus dilakukan untuk membangun
agama dalam budaya lokal dapat dibekali dengan pengetahuan, dan sikap yang
dapat di terima baik oleh masyarakat. Begitu pula dengan metode yang sesuai
dengan tuntutan dan perkembangan masyarakat yang saat ini. Dimana kebudayaan
tersebut begitu sangat berkembang pesat dengan oleh zaman modern yang sangat
canggih dalam membangun kebudayaan tersebut.
Dalam pembahasan
ini sang penulis akan mengupas sesuai topik yang di bahas yaitu “Pesan Agama Dalam Membangun Budaya Lokal”. Dimana
topik ini untuk dapat membawa sang pembaca untuk memahami pesan – pesan agama
dalam kebudayaan yang begitu sangat berkembang pesat oleh zaman modern
tersebut.
1.2
Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang masalah yang telah dipaparkan di atas maka masalah yang yang muncul
kemudian ialah apa pesan - pesan agama dalam membangun budaya lokal saat ini?
Dan bagaiman cara nya untuk memberi pesan – pesan agama tersebut? Dan mengapa
agama dapat membaur dalam kebudayaan
pada zaman modern ini?
1.3Tujuan
Penelitian
Tujuan dari
penelitian ini adalah :
1.
Diharapkan dapat memberikan jawaba atas rumusan masalah yang
telah dipaparkan di atas
2.
Sebagai motivasi atas pesan–pesan agama
untuk kebudayaan.
3.
Memberi kesadaran, bahwa budaya dan
agama selalu ada ikatannya.
4.
Dapat mengetahui pesan–pesan yang telah
di berikan agama oleh kebudaya lokal saat ini.
BAB II
ISI PENELITIAN
2.1
Pesan Agama Dalam Membangun Budaya Lokal
Budaya dapat
dijadikan “mesin raksasa” untuk menafsirkan pesan suci agama terutama islam
dalam bingkai kultural, kata Rektor Universitas
Islam Negri(UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof Dr HM Amin Abdullah. “Agama
harus ditekankan tidak bisa berjalan sendiri untuk memupuk kebersamaan dalam
membangun identitas kultural,” katanya dalam pidato penganugerahan Doctor Honoris Causa bidang kebudayaan Islam kepada KH
Ahmad Mustofa Bisri, di Yogyakarta.
Menurut Amin
Abdullah, agama harus masuk dalam wilayah kategori akhlak, moral, etis,
spritual, dan pandangan dunia. Namun demikian, budaya juga menjadi nihil tanpa
orientasi transendental yang bersumber dari kejernihan agama."Dalam
konteks itu Islam budaya mengambil peran yang signifikan menyulam peradaban
manusia sehingga tampak indah dalam suatu jahitan yang harmonis," katanya.
“Islam itu sesungguhnya lebih dari satu sistem agama saja;
Islam adalah satu kebudayaan yang lengkap”. Demikian diungkapkan oleh H.A. Gibb
dalam bukunya yang terkenal Wither Islam.
Seperti
itulah pandangan tentang hubungan budaya dengan agama. Seperti yang kita
ketahui agama adalah suatu kata yang tidak dapat dimaknai secara tunggal.
Memahami agama tidak cukup untuk memandang dengan satu kaca mata saja. Tapi
agama harus di pandang oleh beberapa
sudut pandang agar dapat memberikan gambaran seutuhnya. Dengan hal itu
agama dapat kita memahami, apa itu agama dengan menurut pandangan yang berbeda?
Seperti contoh dalam pandangan ilmuwan Sumardi, 1985:75 “Agama adalah keprihatinan maha luhur dari manusia yang terungkap
selaku jawabannya terhadap panggilan dari yang Maha Kuasa dan Maha Kekal.
Keprihatinan yang Maha Kuasa dan Maha Kekal itu diungkapkan dalam hidup
manusia,pribadi atau kelompok terhadap Tuhan, terhadap manusia dan terhadap alam
semesta raya serta isinya”.
Budaya?
Budaya menurut Koentjaraningrat (1987:180) adalah keseluruhan sistem, gagasan,
tindakan dan hasil kerja manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang di
jadikan milik manusia dengan belajar. Jadi budaya diperoleh melalui belajar.
Tindakan – tindakan yang dipelajari antara lain cara makan, minum, berpakaian,
berbicara, bertani, bertukang, berrelasi dalam masyarakat adalah budaya.
Dapatlah disimpulkan bahwa budaya yang digerakan agama timbul dari proses
interaksi manusia dengan kitab yang di yakini sebagai hasil daya kreatif
pemeluk suatu agama tapi dikondisikan oleh konteks hidup pelakunya, yaitu
faktor geografis, budaya dan beberapa kondisi yang objektif.
Dengan
penelitian ini, sudah jelas dengan pengertian Agama dan Budaya menurut penulis
dan menurut sudut pandangan ilmuwan – ilmuwan yang cukup singkat dan jelas.
Lalu, apa pesan agama untuk kebudayaan saat ini, pada zaman modern ini? Jadi
agama islam lah yang menjawab, agama islam yang telah menyumbangkan kepekaan
terhadap tata tertib kehidupan melalui syari’ah, ketaatan melakukan Shalat lima
waktu, kepekaan terhadap mana yang baik dan mana yang jahat, dan melakukan yang
baik dan menjauhi yang jahat (amar makruf nahi munkar) berdampak pada
pertumbuhan akhlak yang mulia. Inilah hal – hal yang disumbangkan islam dalam
pembentukan budaya bangsa.
Bagaiman
cara agama memberi pesan kepada budaya zaman modern seperti ini? Jawabannya
yaitu dengan cara melopori mendirikan pendidikan seperti sekolah, pondok
pesantren, perguruan tinggi. Melalui pendidikan seperti inilah sejak kecil kita
diajarkan bagaiman cara melakukan hal yang baik dan menjahui yang jahat,
mengetahui hal yang buruk dan hal yang baik. Seperti contohnya pada saat kita
masih berpendidikan Taman Kanak – Kanak atau pada saat menginjak Sekolah Dasar,
kita sudah di ajarkan berdoa sebelum makan dan sesudah makan, sebelum minum dan
sesudah minum, menghormati orang yang lebih tua dari kita, dan dapat
mengerjakan sesuatu yang dapat berguna untuk orang lain, karna Manusia yang
beruntung adalah manusia yang bermanfaat untuk orang lain.
2.2 Penutup
Agama dalam budaya lokal adalah akan selalu bersatu dalam
menjalankan kebudayaan saat ini. Sehingga agama dan budaya tidak akan hilang
ditelan zaman. Dengan penilitian ini dapat kita simpulkan bahwa agama adalah
pondasi atau tiang iman yang dapat membawa kita berbagai hari ke hari, bulan ke
bulan, tahun ke tahun, zaman ke zaman, hingga saat ini. Demikian yang dapat di
sampaikan tentang pembahasan sang penulis yaitu Pesan Agama Dalam Budaya Lokal
secara singkat.
SUMBER REFERENSI
http://female.kompas.com/read/2009/05/30/23121945/budaya.dapat.dijadikan.penafsir.pesan.agama
(di unduh pada tanggal 30 maret 2013)
https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=241602935945288&id=151125391659710 (di unduh pada
tanggal 30 maret 2013)
http://damayanti327.wordpress.com/about/hubungan-agama-dan-budaya-tinjauan-sosiokultural/ (di unduh pada
tanggal 30 maret 2013)
Nama : Choerul Aldi Wibowo
NPM : 11113899
Kelas : 1ka08
